Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

PENGUASAAN PSIKOLOGIS KOLONIAL INDONESIA ATAS ORANG PAPUA


Seringkali kita telah melihat berbagai macam penjajahan diatas dunia yang dilakukan oleh suatu bangsa kepada bangsa lain yang boleh dikata masih terjadi hingga saat ini. Dalam melakukan suatu penjajahan, jelaslah bangsa penjajah wajib memiliki pengetahuan yang lebih dari bangsa yang terjajah tetapi juga strategi-strategi ampuh untuk menaklukan bangsa tersebut. Strategi ini meliputi penguasaan psikologis.

Salah satu penjajahan diatas dunia yang terjadi dari tahun 1969 hingga kini adalah penjajahan Indonesia terhadap West Papua, salah satu wilayah yang terletak di Samudera Pasifik yang manusianya berkulit hitam dan berambut keriting. Dikatakan indonesia menjajah West Papua sebab Bangsa Papua dipaksa atau dianeksasi untuk bergabung dengan Indonesia melalui PEPERA. PEPERA yang dilaksanakan di wilayah West Papua saat itu adalah cacat hukum sebab melanggar hukum international mengenai self determination atau hak penentuan nasib sendiri.  Selain itu, Papua dan Indonesia adalah 2 wilayah yang dijajah Belanda dengan pusat pemerintahan yang berbeda, jelaslah kedua wilayah ini memiliki hak yang sama untuk mendirikan negara.

Penjajah seringkali menjalankan penguasaan psikolgis untuk mempertahankan kekuasaan mereka terhadap bangsa yang dijajah. Cara inilah yang saat ini dilakukan Indonesia terhadap rakyat Papua. Dimana indonesia menjalankan empat cara untuk menguasai psikolgis rakyat Papua yaitu politik pecah-belah, pembodohan, injeksi psikolgis, dan politik asosiasi alias kolaborasi.

Politik Pecah-Belah

Kolonial memainkan cara ini dengan menggunakan media, isu, serta propaganda untuk memecah belah rakyat Papua. Salah satu contoh adalah dengan mengangkat isu gunung-pantai. Disini kolonial Indonesia mencoba mengangkat isu ini agar terjadi konflik horizontal antara sesama rakyat Papua. Senjata untuk melawan politik ini adalah persatuan dan solidaritas. Kaum pergerakan pembebasan Papua tidak boleh lelah mempromosikan dan menjahit persatuan. Persatuan akan terjadi ketika seseorang percaya bahwa ia bisa bersatu atau punya kehendak bersatu. Tak boleh lagi ada rasa egois atau mementingkan kesukuan dalam diri kita pribumi Papua.

Pembodohan

Kolonial Indonesia sengaja membiarkan rakyat Papua terbelenggu dalam ketidaktahuan dan kesadaran palsu. Ketidaktahuan adalah pintu masuk bagi kolonialis untuk memanipulasi kesadaran rakyat. Tak jarang ketidaktahuan itu menyebabkan seseorang tidak mengerti dirinya ditindas. Inilah yang melanggenggkan Kolonialisme hingga berpuluh-puluh tahun menindas rakyat Papua. Senjata untuk melawan pembodohan ini adalah pendidikan dan penyadaran. Sekolah-sekolah rakyat penting untuk didirikan, selain untuk mendidik rakyat dengan ilmu pengetahuan, sekolah-sekolah ini juga harus menyadarkan rakyat akan realitas sosialnya dan perjuangan kemerdekaan. Pendidikan politik pun harus segera diberikan kepada rakyat Papua sebagai bagian dari bentuk penyadaran. Serta pengorganisiran nelayan, buruh, petani Papua demi memupukan rasa nasionalisme Papua.

Injeksi psikologis

Injeksi psikologis berupa berupa gagasan keunggulan bangsa Indonesia serta program-program pembangunan Indonesia bagi Papua sebagai bentuk kepedulian mereka. Jelas hal ini mengganggu psikologis rakyat Papua yang belum mengetahui kelicikan dan kebusukan kolonial Indonesia. Janganlah percaya dengan kebohongan ini sebab pembangunan ataupun hal-hal baik yang dilakukan oleh kolonial Indonesia tidak berdasarkan hati nurani dan ketulusan. Senjata untuk melawan modus ini adalah membangun semangat (jiwa yang percaya pada kekuatan bangsa sendiri) dan jiwa berdikari (berdiri diatas kaki sendiri) seperti yang pernah Soekarno-Hatta dkk lakukan untuk membebaskan bangsa mereka Indonesia. Seringkali kolonialis Indonesia menunjukan bahwa Bangsa Papua tidak punya kemampuan memimpin, tidak cakap mengurus rumah tangga bangsanya sendiri, bodoh. Kaum pergerakan harus memerangi penyakit rendah diri dihadapan bangsa lain terutama masyarakat akar rumput. Mengangkat kepercayaan diri yang harus di tunjukan kepada kolonial indonesia maupun bangsa-bangsa di dunia kalau West Papua mampu berdiri sendiri sebagai suatu negara merdeka.

Politik asosiasi

Politik asosiasi ini tercermin pada persekutuan antara Indonesia dan Papua yang didasarkan pada kesamaan hak dan kewajiban dimana kolonial Indonesia menganggap rakyat Papua adalah saudaranya yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan daerha lain dalam negara indonesia.. Kolonialis Indonesia memanfaatkan politik ini agara terus menghisap dan mengeksploitasi hasil kekayaan alam Papua, sedangkan rakyat Papua merindukan kemerdekaan dan keadilan sosial. Kaum pergerakan pemebebasan Papua harus menentang politik asosiasi sebab hak-hak rakyat Papua telah diperkosa, hak-hak politik tidak dihargai, hak bersuara atau berorganisasi dilarang.

Modus-modus inilah yang sering digunakan oleh kolonialis Indonesia dalam mempertahankan eksistensi mereka di Papua. Kolonial Indonesia memainkan politik-politk ini untuk menguasai psikologis rakyat Papua. Namun politik-politik ini semakin hari semakin hancur. Rakyat Papua telah sadar dan bersatu untuk menuju kepada satu tujuan mencapai kemerdekaan. Itu terlihat dari telah bersatunya tiga organ besar perjuangan pergerakan pembebasan Papua (KNPB, NFRPB, WPNCL) dalam suatu organ reprensetatif, United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).

Perjuangan pergerakan pembebasan Papua telah tiba pada masa-masa dimana mendekati pintu-pintu kemerdekaan. Kolonial Indonesia tentu tak tinggal diam. Serangan gencar terus dilakukan untuk menguasai psikologis rakyat. Politik busuk kolonial Indonesia telah gugur secara perlahan mengingat pergerakan organisasi-organisasi pembebasan Papua yang semakin radikal baik didalam negeri maupun diluar negeri.
Persatuan adalah kekuatan kita untuk menghancurkan kekuatan lawan.
Salam Revolusi...!!! Papua Merdeka...!!!

(Tulisan ini di dambil dari tulisan Rudi Hartono-Berdikarionline, Melawan Hegemoni Kolonialis, dengan perspektif realitas di Papua)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

Lecet... mengatakan...

TetaPi semuanya telah diPatahkan oleh PETISI..... tidak adalagi kekuatan bagi NKRI...... kita BERDOA JA.. KEBENARAN Pasti Penag........ GOD BLES....

Posting Komentar