Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

PGGP HARUS TAMBAH KAYU BAKAR

Oleh: Wairi
Sunday, August 20 2017
(Dewan Gereja Pasifik)
“Papua Merdeka adalah Anugerah bagi Indonesia dan Berkat bagi Bangsa-Bangsa Di Dunia”
-Edison K. Waromi-
(Deklarator ULMWP)

17 Agustus 2017, satu surat elektronik datang dari Pacific Conference of Churches ( Konferensi Dewan Gereja Pasifik ) kepada salah satu media nasional West Papua, Tabloid Jubi. Gereja Pasifik menyampaikan keprihatinannya pada penduduk West Papua yang di anggap belum bebas karena belum bisa menentukan nasib nya sendiri. Pertemuan pemimpin gereja yang berlangsung 1-3 Agustus 2017 ini di akhiri dengan tujuh rekomendasi.

“Rekomendasi pertama menyangkut West Papua. Para pemimpin gereja sepakat mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaku pelanggaran HAM di West Papua”, kata Rev. Pihaatae, Sekjen Dewan Gereja Pasifik
Tuhan, lanjut Rev.Pihaatae, menciptakan manusia dan sebuah bangsa untuk bebas dan menentukan diri sendiri dan karena itu para pemimpin gereja selanjutnya mendukung seruan penentuan nasib sendiri West Papua.

“Tidak ada yang bebas sampai kita semua bebas,” kata Rev.Pihaatae mengikuti salah satu perkataan Martin Luther King, Jr. Konferensi Gereja Pasifik, menurut Rev.Pihaatae sangat mendukung inisiatif negara-negara Pasifik untuk membebaskan bangsa-bangsa Pasifik dari penjajahan di muka bumi ini.

Api telah di menyalakan oleh Dewan Gereja Pasifik. Agar masakan nya cepat matang, maka perlu tambahan kayu bakar. Nyala api akan meredup ketika kayu bakar terbakar hingga menjadi debu. Maksud perumpamaan ini adalah Dewan Gereja Pasifik telah menyalakan api rekomendasi “hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua”. Persekutuan Gereja-Gereja Papua (PGGP) seharusnya mengambil langkah yang selaras dengan Dewan Gereja Pasifik untuk menambah kayu bakar agar nyala api membesar. Kayu bakar yang di maksudkan adalah PGGP segera mengambil sikap terbuka untuk mengkampanyekan Hak Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua di Tanah West Papua sebagai solusi demokratik. Bukan Otonomi Khusus, pembangunan, serta gula-gula (tawaran) Jakarta lainnya.

Surat elektronik dari Sekjen Dewan Gereja Pasifik tiba tanggal 17 Agustus 2017, hari dimana Persekutuan Gereja-Gereja Papua sedang melaksanakan ibadah pujian dan penyembahan pada perayaan hari kemerdekaan Indonesia yang berlangsung di Gedung Olahraga (GOR) Cenderawasih Jayapura. 16 hari sebelumnya tepatnya 1 Agustus 2017, penembakan rakyat Papua di lakukan oleh aparat keamanan Indonesia di Deiyai. 1 orang tewas serta belasan lainnya luka-luka. PGGP membisu seribu bahasa atas insiden ini. Umat Tuhan yang notabene adalah domba di biarkan oleh Sang Gembala yang adalah Para Pendeta, tewas di terkam oleh Singa. Gembala tidur, tuli, buta, entalah. Mungkin perayaan hari kemerdekaan Bangsa Indonesia lebih penting ketimbang nyawa Bangsa Papua yang adalah umatnya.

Radikalisme Persekutuan Gereja-Gereja Papua ( PGGP ) dalam membela umatnya di Papua tak kelihatan. Taringnya seolah patah. Yesus Kristus adalah sang pembebas. Tokoh revolusioner sejati yang mempertahankan asas-asasnya hingga mati di palang gantungan. Yesus Kristus seorang yang radikal. Itu terlihat ketika orang berjualan di Gereja yang adalah tempat beribadah di jadikan pasar. Tanpa takut dan gentar ia memarahi serta membalikan meja-meja jualan para pedagang. Menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, buta, lumpuh, yang di penjara, orang yang di tindas dari kampung ke kampung. Umat Tuhan di West Papua di tembak mati tanpa salah, Gerejalah yang seharusnya bersuara paling utama sebab Tuhan tidak menghendaki suatu pembunuhan. Salah satu langkah radikal yang bisa di ambil PGGP adalah menyurati Presiden Indonesia, Jokowi, dan menyatakan bahwa rakyat Papua merindukan Hak Penentuan Nasib Sendiri sebagai solusi persoalan politik di Tanah Papua. PGGP harus segera tarik diri dari Persekutuan Gereja Indonesia ( PGI ), jika PGI tak mampu mengintervensi Jokowi mengenai masalah Papua. Sebab masalah Papua bukanlah masalah kesejahteraan tetapi masalah harga diri sebagai sebuah bangsa. Apakah para pendeta takut akan kehilangan jabatan dan di bunuh aparat jika bersuara tentang hak penentuan nasib sendiri? Ataukah jika mendukung hak penentuan nasib sendiri PGGP tak menadapat uang dari Republik Indonesia? Hanya Tuhan yang tahu.

PGGP bagaiakan buah simalakama. Makan mati, tidak makan mati. PGGP berbicara Papua Merdeka akan di bunuh aparat ataukah di tangkap. Berbicara Indonesia merdeka akan di tanya Tuhan di akhirat nanti. Mengapa tidak menyelamatkan jiwa yang di binasakan oleh manusia? Wajah PGGP pada sisi sebelah NKRI, sedangkan sisi sebelah Papua Merdeka. Jika di tinjau, PGGP kadang berpedoman pada ayat Firman Tuhan yang mengatakan hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati ketika di perhadapkan status politik West Papua. Tetapi Tuhan tidak mendukung penindasan dan penjajahan sehingga memerintahkan Musa dan Harun untuk membawa Bangsa Israel keluar dari penindasan Mesir. Musa dan Harun hanya melakukan negosiasi dan diplomasi dengan jalan damai kepada Raja Firaun untuk segera membebaskan bangsa mereka. Tidak melakukan cara-cara bersekutu dengan Raja Firaun. PGGP harus melihat hal ini dengan cermat. Indonesia adalah penjajah dan penindas bagi Rakyat Papua, maka PGGP harus mengambil langkah yang di lalui oleh Musa dan Harun untuk turut membebaskan umat Tuhan dari penindasan.

Seandainya aku bisa berkomunikasi dengan Tuhan, akan ku tanyakan kepada Tuhan, Apakah Engkau mendukung suatu penjajahan dan penindasan? Masakan Gereja yang Kau bentuk bersekutu dengan penjajah untuk menghabisi umat-Mu di Tanah Papua?

Tuhan akan di lematis dengan dua pilihan doa yang di panjatkan oleh para pendeta yang duduk dalam Persekutuan Gereja-Gereja Papua ( PGGP ). Ada pendeta yang memanjatkan doa untuk pemerintah Indonesia, tetapi ada pula yang berdoa untuk Kemerdekaan Papua. Langkah bijaksana yang di ambil oleh PGGP untuk turut membantu penyelesaian persoalan Bangsa Papua hanyalah “Mendukung Hak Penentuan Nasib Sendiri” demi terciptanya kehidupan umat Tuhan yang aman, tenteram serta sejahtera. Tuhan pasti setuju dengan “Hak Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua”.

(Tulisan ini hanya mengkritisi Persekutuan Gereja-Gereja Papua secara universal , tidak untuk person )

Wa...Wa...Wa...!
Salam Tumbuna....Freedom....!


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

JANGAN PAKSAKAN SA JADI MERAH-PUTIH


JANGAN PAKSAKAN SA JADI MERAH-PUTIH

Oleh: Gunawan

Saturday, August 12 2017


Suatu ketika berjalanlah seorang pemuda di pinggiran pantai. Pemuda ini sedang mencari tuturuga (penyu) disekitaran pantai tetapi tak kunjung mendapatkan tuturuga. Bertemulah sang pemuda dengan seorang nenek. Bertanyalah nenek ini kepada pemuda itu :”Nak...apa yang kau cari dari tadi di sekitaran pantai ini?” Jawab pemuda itu dengan penuh harapan si nenek akan membantunya mendapatkan tuturuga: “Aku sedang mencari tuturuga nenek. Sejak tadi aku telah menelusuri seputar pantai tetapi tidak menemukan tuturuga.” Maka dengan percaya diri nenek tersebut berkata kepada anak muda itu: “Tidak sadarkah kau, anak muda, saat ini kau sedang berdiri diatas tubuh tuturuga tersebut. Mengapa engkau tak menyadari hal itu sejak tadi?

Cerita pendek di atas menggambarkan si anak muda yang tidak percaya diri. Tidak percaya diri serta kurang nya kesadaran akan sesuatu yang ia cari. Anak muda ini telah berdiri di tubuh tuturuga tetapi malah ia mencari-cari sekitar pantai. Ketidakpercaan diri menyebabkan anak muda tak tahu apa yang ia injak.

Banyak orang asli Papua hari ini, belum memiliki kepercayaan diri atas apa yang ia injak. Tanah, kekayaan alam, hutan yang luas tak cukup membangkitkan kepercayaan diri akan milik kita. Ketika kepercayaan diri tak ada lagi, maka saat itulah orang kulit putih masuk dengan berbagai macam penawaran yang membuat kita terhegemoni sehingga tak sadar akan apa yang di miliki. Tergiur dengan berbagai macam penawaran white man. White man berhasil masuk dalam sendi-sendi kehidupan orang asli Papua, praktek kolonialisme pun terjadi diatas Tanah Papua Barat hingga saat ini. Penindasan, penembakan, penculikan, pembunuhan orang asli Papua. Seakan binatang buruan, nyawa orang asli Papua tak ada arti apa-apa di mata orang kulit putih terkhususnya aparat keamanan bangsa indonesia.

Pasca Belanda angkat kaki dari atas Tanah Papua setelah penyerahan administrasi dari UNTEA kepada pemerintah Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963, Bangsa Indonesia mulai masuk dalam kehidupan orang Papua Barat. Sebuah bangsa yang pada akhirnya orang asli Papua kenal lebih kejam dari Belanda. Terjadilah pemberontakan Arfai, Manokwari, 28 Juli 1965 yang di pimpin Permenas Awom. Pemberontakan ini di latarbelakangi oleh terciumnya kejamnya Indonesia melebihi Belanda. Telah tercium Bangsa Indonesia akan menguasai Papua Barat dan seluruh kekayaan alamnya. Banyak perjanjian yang di buat oleh Soekarno demi Papua, namun semuanya itu hanyalah omongan bualan. Bangsa Papua Barat tak pernah merasakan kebahagiaan hidup bersama Indonesia.

Papua di aneksasi menjadi bagian sah dari Republik Indonesia melalui PEPERA. Menurut saksi PEPERA, peserta PEPERA di karantina serta di intimidasi agar memilih bergabung dengan Indonesia. Proses Self Determination tidak di laksanakan sesuai praktek internasional dimana ‘one man one vote’. PEPERA dilaksanakan secara tertutup, rahasia, dan melalui perwakilan yang di tunjuk langsung oleh militer Indonesia. Untuk memenangkan PEPERA, maka pihak pemerintah Indonesia mulai memainkan peranan militer sehingga para wakil Bangsa Papua yang akan duduk dalam Dewan Musyawarah PEPERA (DMP) dapat menolak Administrasi Negara Papua Barat di pegang oleh Bangsa Papua sendiri ataupun Belanda tetapi menerima Administrasi di kontrol oleh Bangsa Indonesia. Peserta DMP di tampung di suatu penampungan khusus di seluruh Komando Resort Militer (KOREM) di Papua untuk di beri nasihat, teror, intimidasi, rayuan, bahkan pembunuhan. Selain itu, KOSTRAD pun ikut mengambil bagian dalam persiapan PEPERA.

Pemerintah Indonesia hanya melakukan konsultasi dengan Dewan Kabupaten di Jayapura tentang tatacara penyelenggaraan PEPERA pada tanggal 24 Maret 1969. Kemudian di putuskan membentuk Dewan Musyawarah PEPERA (DMP) dengan anggota yang berjumlah 1.026 anggota dari delapan kabupaten, yang terdiri dari 983 pria dan 43 wanita. Para anggota DMP di tunjuk langsung oleh Indonesia ( tidak melalui pemilihan umum di tiap-tiap kabupaten ) dan di bawah intimidasi serta ancaman pembunuhan oleh pimpinan OPSUS ( Badan Inteligen KOSTRAD ) Ali Murtopo.


Sedihnya lagi, para anggota DMP itu ditampung disuatu tempat khusus dan dijaga ketat oleh militer sehingga mereka (anggota DMP) tidak bisa berkomunikasi atau dipengaruhi oleh keluarga mereka. Setiap hari mereka hanya diberi makan nasihat supaya harus memilih bergabung dengan Indonesia agar nyawa mereka bisa selamat.

Akhirnya dengan rasa sedih yang dalam terpaksa para anggota DMP itu harus memilih bergabung dengan NKRI di depan utusan PBB, Fernando Ortisan. Walaupun ada terjadi sedikit gerakan protes oleh rakyat Papua di luar gedung PEPERA tetapi disapuh bersih oleh militer Indonesia dengan senjata dan meriam, diculik, dibunuh, disiksa, dan dihina-hina bahwa orang Papua bodoh. Para wartawan pada saat itu pun kemungkinan dilarang oleh militer Indonesia untuk meliput proses penentuan pendapat rakyat yang penuh kecurangan dan kebohongan. Sayangnya, mengapa tak ada pasukan PBB yang mengawasi tetapi justru diawasi oleh tentara Indonesia yang jumlahnya melebihi utusan PBB.

Sejak bergabung dengan Indonesia, di paksakan orang asli Papua harus benar-benar menjadi Indonesia. Indonesianisasi Papua terjadi dengan cara paksaan bukan lahir dari hati. Menjelang 17 Agustus 2017 di keluarkan surat edaran oleh Walikota Jayapura melalui camat, lurah,  RT/RW agar setiap toko, rumah, serta gang gapura setiap lingkungan memasang bendera merah-putih. Jika tidak, akan di kenakan sanksi.

Membaca surat edaran tersebut, siapapun pasti merasa konyol dengan tindakan yang di lakukan oleh Walikota Jayapura serta jajarannya. Entah pak walikota pernah meluangkan waktu sejenak demi membaca dan merenungkan tentang sejarah Papua yang dimanipulasi oleh Republik Indonesia? Atau malah Pak Walikota Jayapura buta sama sekali terhadap sejarah peradaban Bangsa Papua Barat?

Dalam sidang PPKI, 15 Agustus 1945, Soekarno beripidato dan menyatakan bahwa “Yang disebut Indonesia adalah pulau-pulau Sunda Besar (Jawa,Sumatra,Borneo,dan Celebes), pulau-pulau Sunda Kecil yaitu Bali, Lombok, NTB, dan NTT serta Maluku. Tetapi untuk keamanan Indonesia dari arah pasifik, maka kita perlu menguasai Papua.”.

Belanda bersikeras tidak melepaskan Papua menjadi bagian Indonesia. Oleh sebab itu jika klaim Soekarno, Papua bagian integral dari Hindia-Belanda gugur. Saat Belanda mendirikan tugu Fort Du Bus di Teluk Triton, Kaimana, wilayah Papua atau Netherlands New Guinea resmi menjadi sebuah provinsi yang beribukota di Hollandia (sekarang Jayapura) di bawah kontrol Kerajaan Belanda. Netherlands Indische (sekarang Indonesia) beribukota di Batavia (Jakarta). Otomatis tidak ada lagi klaim Indonesia atas Papua sebab Papua bukan lagi bagian integral dari Hindia-Belanda tetapi menjadi provinsi tersendiri.

Soekarno seperti kita ketahui adalah Marxist. Keinginan utamanya untuk merebut Irian Barat (sekarang Papua) adalah membebaskan Papua dari pengaruh imperialisme barat. Tercium Belanda adalah sekutunya Amerika Serikat. Hanya Soekarno salah jalan sehingga pencaplokan Papua bersifat pemaksaan bukan karena keinginan hati orang asli Papua bergabung dalam bingkai NKRI. Papua telah di persiapkan Pemerintah Belanda untuk berdiri sendiri menjadi sebuah negara merdeka pada tahun 1970. 1 Desember 1961, Pemerintah Belanda mendeklarasikan bendera, lambang, lagu, semboyan negara Papua.

Papua adalah luka membusuk yang siap menghancurkan tubuh Indonesia. Terima atau tidak terima, suka atau tidak suka, luka ini telah menyebarkan bau busuknya di panggung internasional.  Segala obat penawar (otsus, pembangunan) telah di suntikan demi kesembuhan luka ini, tetapi sungguh mirisnya luka ini tak kunjung sembuh bahkan mungkin menjadi luka pusaka.

Umbul-umbul, spanduk, baliho berbau merah putih menjelang perayaan 17 agustus adalah salah satu obat penawar yang namanya ‘NKRI harga mati’ demi kesembuhan luka pusaka itu. Sayang beribu sayang, luka pusaka itu hanya dapat di sembuhkan oleh obat penawar yang namanya ‘Self-Determination’. Indonesianiasi Papua dalam minggu-minggu menjelang tanggal 17 agustus, Aparatur Sipil Negara, TNI/POLRI, bahkan anak sekolahan di sibukan dengan kegiatan-kegiatan berupa perlombaan gerak jalan, karnaval, hingga mengecat kantor dan sekolah. Anak asli Papua yang aktif dalam kegiatan tujuh belasan seakan lupa diri layaknya pak walikota Jayapura. Terhasut akan gula-gula Jakarta (otsus, pembangunan, jabatan).

Hampir sepanjang jalan Kota Jayapura, bendera merah-putih di pasang. Tahun-tahun sebelumnya hal ini jarang terjadi. Mungkinkah tahun 2017, pemerintah Indonesia sangat gemetar akan pencapaian United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), dimana tercatat seratus lebih negara telah mendukung hak penentuan nasib sendiri bagi Papua?

Dalam sebuah negara merdeka, menjelang hari kemerdekaan nya, terlihat adanya kesadaran rakyat untuk mengangkat atau menaikan bendera negaranya. Himbauan mungkin di lakukan oleh presiden dan gubernur wilayah-wilayah. Yang terjadi di Kota Jayapura, rakyat di paksa untuk mengibarkan bendera merah-putih. Jika tidak, ada yang di kenakan sanksi. Mungkinkah sanksi-sanski ini terjadi juga di daerah Indonesia lainnya? Ini bukti Papua di aneksasi dan di paksa bergabung dengan Republik Indonesia.

Rakyat Papua yang telah mengetahui kebenaran sejarah Papua, janganlah terhasut dan termakan oleh propaganda NKRI melalui kegiatan-kegiatan menjelang 17 agustus. Jika kita terlibat, maka ini akan menjadi kampanye hitam NKRI di dunia internasional bahwa kedaulatan mereka masih kuat di atas Tanah Papua.

“kami bukan merah putih, kami bukan merah putih”

“kami bintang kejora, bintang kejora”

“baru-baru ko bilang merah putih”

“kami bukan indonesia, kami bukan indonesia”

“kami bangsa papua, bangsa papua”

“baru-baru ko bilang indonesia”

Seharusnya pemerintah Indonesia  segera sadar akan kesalahan masa lalu Soekarno dan rekan seperjuangannya dulu yang merampas Papua. Belajarlah dari kawan-kawan Front Rakyat Indonesia-West Papua ( FRI-West Papua ) yang tak ingin melihat Bangsa Papua di jajah. Sehingga mendukung penuh pembebasan Papua dari belenggu penjajahan Indonesia.

Jangan pernah bermimpi untuk mengindonesiakan Papua. Sudah sejak dalam pikiranmu, kau penuh paksaan. Hati mu dan hati ku tak memiliki kecocokan sejak awal mula bertemu. Kita tak boleh memaksakan untuk melanjutkan kisah cinta ini. Indonesianisasi Papua itu kesalahan dan bukan jalan keluar.

Sa Melanesia, Sa hitam, Sa rambut keriting. Jangan Paksakan Sa untuk jadi Ko.

Salam Tumbuna...Freedom...!



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

PEMBUNUHAN MISTERIUS: PEMICU KONFLIK DI PAPUA



PEMBUNUHAN MISTERIUS: PEMICU KONFLIK DI PAPUA

Senin, 22 Mei 2017
Oleh : Ananta Goenawan


Akhir-akhir ini rakyat Papua khususnya Kota Jayapura di gegerkan dengan kasus kekerasan yang berujung pada pembunuhan serta penemuan mayat. 11 Mei 2017, seorang Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Cenderawasih bernama Dr.Suwandi, di hadang dua orang tak dikenal saat hendak pulang ke rumahnya di jalan buper waena. Pelaku menyerang korban dengan parang hingga tewas. Sabtu 13 Mei 2017, seorang wanita bernama Fitri Diana tewas setelah dihadang tiga orang tak dikenal di dekat Kampung Netar Distrik Sentani Timur. Rangkaian aksi pembunuhan misterius ini berlanjut hingga Jumat 19 Mei 2017 setelah ditemukannya mayat seorang perempuan yang kemudian diketahui sebagai penjual tahu tek di depan RS.Dian Harapan pada pukul 05.15 pagi WIT. Jenazah perempuan berusia 45 tahun ini ditemukan dalam parit tepat di depan PLTD Waena.

 Anehnya Jumat sore tepatnya di depan depot pemotongan kayu (sawmill), masyarakat di kagetkan oleh penyisiran yang dilakukan oleh Polresta Jayapura. Warga menduga penangkapan dan penyisiran di depan sawmil berkaitan dengan jenazah perempuan yang ditemukan di dalam parit PLTD Waena. Namun pihak kepolisian membantah dugaan tersebut dan masih mendalami dan mengidentifikasi beberapa orang yang ditangkap Siapa sebenarnya aktor pembunuhan misterius ini? Hingga kini belum jelas siapa pelaku pembunuhan berdasarkan bukti-bukti dan saksi-saksi. Terdapat beberapa kejanggalan dalam kasus pembunuhan misterius ini yang dapat mengarahkan kita kepada kecurigaan pembunuhan ini adalah setingan beberapa oknum ataupu elit politik demi kepentingan mereka diatas Tanah Papua Barat.
Pertama, korban secara mengejutkan berturut-turut diawali oleh masyarakat non-Papua. Terlihat dengan jelas penyetingan menuju kepada konflik antara rakyat Papua dan rakyat non-Papua demi menghancurkan aspirasi Papua Merdeka.

Kedua, pada Jumat sore 19 Mei 2017 aparat menembak seorang warga asal Yahukimo bernama Maikel hingga tewas. Sampai saat ini belum jelasnya kasus apa yang menimpa Maikel. Tanpa bukti-bukti yang valid serta saksi-saksi, aparat menggrebek dan menembak Maikel hingga tewas. Asas praduga tak bersalah tidak dijunjung lagi oleh penegak hukum. Setelah Maikel ditembak, tersebar foto Maikel di media sosial bahwa inilah pelaku pembunuhan seorang perempuan yang ditemukan dalam parit PLTD waena. Masyarakat akar rumput yang belum memahami skenario ini seolah di giring ke arah pemvonisan masyarakat pegunungan tengah sebagai pelaku. Dan konflik kecil pun mulai terlihat.

Ketiga, konflik yang di inginkan oleh sang aktor pembunuhan misterius ini pun mulai kelihatan. Dua Orang Asli Papua ditikam oleh masyarakat Ambon hingga tewas. Aparat yang saat itu berada di lokasi kejadian melakukan pembiaran. Serta teriakan “masyarakat wamena” pun keluar dari masyarakat Ambon. Seolah-olah dua orang inilah yang menjadi pelaku pembunuhan perempuan yang ditemukan dalam parit PLTD.

Ketika terjadi demonstrasi Papua Merdeka, aparat turun dengan kekuatan penuh untuk menjaga bahkan senjata tajam pun dilarang untuk diambil dalam aksi. Masyarakat Ambon yang menggunakan senjata tajam untuk melukai dua orang asli papua diabaikan oleh aparat keamanan. Jelaslah misi terbesar Indonesia atas Papua: “Habisi Rakyat Papua dan Kuasai Tanah Mereka serta Kekayaan Alam Mereka.”

Dari seluruh pembunuhan misterius ini dapatlah kita menarik satu benang merah “konflik”. Masih ingatkah kita pada kasus tragedi Ambon 1999? Tragedi itu secara sistematis dipicu dan dipelihara oleh sejumlah tokoh politik dan militer di Jakarta, untuk melindungi kepentingan mereka. Pola adu domba yang memicu konflik inilah yang sering dilakukan oleh kelompok-kelompok militer. Di Afrika juga terjadi perang saudara yang di provokasi oleh kapitalisme bangsa kulit putih yang ingin menguasai kekayaan mereka. Aktor yang merencanakan ini semua hanya duduk diam dan menertawai konflik tersebut. Siapakah yang menang? Tidak ada kan. Satu agama tidak langsung dimenangkan. Itu semua hanya karena terprovokasi. Bagaimana dengan Papua? Papua saat ini pun sedang di giring oleh kelompok elit Jakarta menuju ke arah konflik entah antar non-papua dan Papua ataukah Papua dan Papua maupun Konflik SARA. Rakyat Papua dituntut untuk tidak mudah terprovokasi dan harus cerdas dalam melihat isu serta sadar akan segala sesuatu yang dilakukan oleh Kolonial Indonesia diatas Tanah Papua.

Kolonial Indonesia saat ini sedang melakukan poltik Devide et Impera atau politik adu domba yang pernah Belanda lakukan di Nusantara. Kolonial Indonesia mencoba mengadu dombakan sesama Papua dengan menciptakan kasus pembunuhan misterius dan menggiring opini publik menuju kepada pelaku yang tak lain adalah masyarakat Pegunungan Tengah. Ketika publik telah tergiring munculah kebencian antara kita. Jika kebencian itu sudah mencapai batas ambang maka pecalah konflik. Ketika konflik pecah antara sesama Papua, maka aspirasi Papua Merdeka akan dengan mudah runtuh. Disinilah titik pusat dan tujuan utama dari semua setingan kolonial Indonesia agar mereka tetap berdiri kokoh diatas Tanah Leluhur kita.

Pengalihan isu pun terjadi disaat mencuatnya kasus pembunuhan misterius ini. Indonesia seolah-olah ingin menunjukan kepada dunia Internasional bahwa yang melakukan pembunuhan di Papua pada akhir-akhir ini adalah mereka orang asli papua sendiri. Demi menyelamatkan wajah mereka di Dewan HAM PBB.

Marthen Manggaprouw, Sekjen West Papua National Autorhity (WPNA) menulis di akun facebook miliknya : “Kita tetap fokus pada Papua Merdeka karena itu solusi. Balas membalas dalam bingkai NKRI tidak akan mendapatkan keadilan sekalipun. Ini negara hukum, mereka yang membawa senjata tajam dan palang jalan raya sebagai fasilitas umum di sekitar RS.Dian Harapan justru mendapat dukungan dari aparat kepolisian, bahkan di depan mata mereka 2 orang Papua dibunuh, tapi mereka biarkan. Sedangkan warga Papua yang tidak membunuh oranglain justru ditembak mati tanpa ampun.”

Rakyat Papua tetaplah tenang dan jaga diri baik-baik serta hindarilah perdebatan yang berujung pada konflik antara kita yang arahnya nanti kepada perang saudara seperti di Afrika.  Hentikan saling tuduh-menuduh dan fitnah di antara kita. Jangan terprovokasi oleh siapapun yang ingin memupuk rasa kebencian yang akan berujung pada konflik. Jaga persatuan kita dalam United Liberation Movement for West Papua (ULMWP). Usir Indonesia sekarang juga sebab yang kolonial itu selalu iblis. Indonesia lah yang selalu membuat ulah diatas tanah Papua demi menghabisi nyawa rakyat Papua dan menguasai penuh kekayaan alam Bangsa Papua. 

Salam Revolusi...!!!
Wa...Wa...Wa...!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

YESUS, REVOLUSIONER SEJATI



Friday, October 21 2016
Oleh : Fonataba Arnaldho Guntur


 Yesus Nazarenus Rex Yodiorum, Yesus dari Nazareth adalah tokoh kepercayaan umat nasrani diseluruh dunia yang diyakini sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sering disebut ‘Anak Allah’ atau ‘Mesias’ Yang Akan Datang untuk membebaskan bangsa Israel dari penjajahan. Yesus bahkan disebut-sebut sebagai Tokoh Berpengaruh Sepanjang Masa sebab ajaran-Nya hampir dianut oleh milyaran orang diberbagai belahan dunia. Keyakinan milyaran orang didunia tak lepas dari ajaran Yesus yang begitu menggugah hati setiap orang melalui perkataan-perkataanya didalam Alkitab.

Yesus disebut sebagai revolusioner yang teguh sebab hingga ajdal datang menjemputnya ia tetap mempertahankan asas-asasnya diatas palang gantungan berbentuk salib. Keteguhan hatinya itu mengagumkan musuh dan menyemangati kawan. 

Revolusi Yesus Kristus dimulai sejak ia berumur 30 tahun. Ia berevolusi selama kurang lebih 3,5 tahun. Sempat ditolak oleh orang-orang ditempat asalnya, Nazaret, sebab mereka menganggap Yesus sebagai saudara mereka bukan tokoh yang diutus untuk membebaskan mereka. Revolusi yang diajarkan Yesus tak lepas dari nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kasih. Ia mengedepankan etika, moral, dan spiritual.

Yesus seringkali ditemukan dalam kerumunan banyak orang.  Terutama orang-orang miskin, menderita, melarat, cacat, sakit, perempuan berdosa. Mereka inilah bagi Yesus sebagai calon untuk hidup dalam negara 1.000 tahun damai yang akan datang dibumi kita ini yang penuh keadilan dan cinta kasih sayang. Yesus sendrirlah yang akan menjadi raja dalam negara tersebut 

Ajaran Yesus kalau boleh dengan kasar digambarkan ialah ‘komunisme sederhana’. Yesus pun memiliki jiwa sosialisme yang sering ia ajarkan kepada ,murid-muridnya. Dimana hak kepemilikan barang  tak berarti dansetiap orang sama. Sayang menyayangi sesama manusia. Terlebih Yesus menanmakn jiwa revolusioner dan sosialistis.Inilah bukti revolusioner sejati dalam diri Yesus.

Yesus Kristus datang ke hadapan bangsanya Israel dan memproklamasikan kepada rakyat Israel bahwa ia diutus oleh Allah untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan membebaskan orang-orang tertindas.. Proklamasi tersebut dibuktikan dengan sebuah aksi nyata dimana Yesus berjalan dari kota ke kota, desa ke desa, untuk mengorganisir kaum miskin, kaum tertindas, pelacur, pemungut cukai, nelayan, serta orang-orang yang dianggap berdosa dan tak terhormat bagi Ahli Taurat dan Tetua bangsa Israel pada waktu itu. Organisir yang dilakukan Yesus berhasil dan cara perlawananan dilakukan tanpa kekerasan, pedang, ataupun mengangkat senjata. Cara-cara inilah yang membuat tokoh kemerdekaan India yang beragama Buddha, Mahatma Gandhi, sangat mengidolakan Yesus Kristus. Mahatma Gandhi mengedepankan perlawanan tanpa kekerasan untuk mengusir penjajah Inggris.

Yesus melawan kaum nya sendiri yang disebut Kaum Rabbi yang terdiri dari ahli taurat dan farisi. Yesus melihat suatu ketidakadilan dimana biaya untuk melayani gereja dan kaum rabbinya itu serta biaya untuk membayar perang kerajaan romawi mesti dipikul oleh rakyat Israel dengan jalan pajak. .Yesus menentang kaum rabbi serta paham mereka tentang agama.  Perlawanan dengan senjata terhadap kaum rabbi yang dilindungi oleh Kerajaan Romawi tak mungkin dilakukan oleh Yesus. Kaum Rabbi akhirnya iri hati melihat banyaknya pengikut Yesus diantara rakyat miskin. Rapat Shanderin dilakukan dan memutuskan untuk menangkap Yesus. Didepan Shanderin, Yesus ditanya oleh imam besar, apakah dia mengaku bahwa dia anak Allah. Yesus mengakui hal itu terus terang. Pengakuan ini dianggap sebagai penghinaan terhadap Tuhan. Atas pengakuan ini imam besar memutuskan bahwa Yesus mesti dihukum mati. Dihadapan Pontius Pilatus, wakil kerajaan romawi untuk galilea, Yesus mengaku pula terus terang sebagai Raja Orang Yahudi.
Sikap Yesus di depan hakim, ditengah-tengah ocehan, caci maki, dan diatas palang gantungan, masih tetap mengaku dan dan memegang teguh asasnya sangat menakjukan.

Dikatakan dalam Alkitab, Yesus Kristus memiliki kuasa ilahi yang mampu menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, berjalan diatas air, mengubah air menjadi anggur, membangkitkan orang mati, serta mujizat-mujizat lainya. Kuasa yang dimilikinya inilah yang membuat banyak orang takjub dan menjadi pengikutnya. Dengan kata lain kuasanya dipakai untuk kesejahteraan seluruh bangsa Israel.

Yesus memainkan politik ‘Kerajaan Allah’, yakni  politik yang mengutamakan keselamatan, kesejahteraan, belarasa, dan memihak korban atau manusia yang menjadi target penyebaran ajaran-Nya.

Yesus layak dijadikan inspirasi dalam revolusi suatu bangsa termasuk bangsa Papua yang hingga saat ini masih melakukan perlawanan terhadap penjajah Indonesia. Mengedepankan kasih, kebenaran, keadilan. Serta etika dan moral dalam suatu perjuangan pembebasan. Tanpa kekerasan sekalipun dan mengangkat senjata.  Dan yang terpenting memegang teguh asas sampai sampai nafas terakhir dalam revolusi.
Salam Revolusi....!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

ISU SARA MENGHANCURKAN IDEOLOGI NKRI, RAKYAT PAPUA TAK USAH AMBIL PUSING



Friday, October 21 2016
Oleh : Fonataba Arnaldho Guntur

SARA adalah berbagai pandangan dan tindakan yang didasarkan pada sentimen identitas yang menyangkut keturunan, agama, kebangsaan atau kesukuan dan golongan. Dalam pengertian lain SARA dapat disebut diskriminasi yang merujuk kepada pelayanan yang tidak adil terhadap individu tertentu, dimana layanan ini dibuat berdasarkan karakterisktik yang diwakili oleh individu tersebut.  Setiap tindakan yang melibatkan kekerasan, diskriminasi dan pelecehan yang didasarkan pada identitas diri dan golongan dapat dikaitkan sebagai tindakan SARA. Tindakan ini melecehkan kemerdekaan dan segala hak-hak dasar yang melekat pada manusia.

Indonesia tak pernah lepas dengan yang namanya tindakan SARA. Konflik antar agamadi ambon dan Poso salah satu contoh konflik yang ditenggarai oleh isu SARA. Bukan hanya itu rakyat Papua pun mengalami tindakan SARA. Bangsa Indonesia selalu menstigma rakyat Papua dengan sebutan monyet, hitam, primitif, kafir, bodoh. Tindakan SARA seakan menjadi konsumsi paling enak Bangsa Indonesia. Tanpa melihat bangsanya yang memiliki angka kemiskinan paling tinggi. Disaat belahan dunia lain telah maju dengan teknologi yang canggih, bangsa Indonesia masih berlari disekitar isu SARA.

Isu ini kembali mencuat beberapa hari yang lalu dan menjadi tranding topic setelah Gubernur DKI, Ahok, mengeluarkan pernyataan yang menurut agama islam menista agama mereka. Tak hanya itu Kapolda baru Banten pun dianggap kafir hanya karena beragama kristen. 

Front Pembela Islam serta Majelis Ulama Indonesia berespon sangat cepat dan melaporkan Ahok ke Polda Metro Jaya. Mereka juga menurunkan ribuan masa dan berdemonstransi di depan Balai Kota Jakarta pada hari jumat,14 oktober 2016. Mereka juga menuntut jika Ahok tak dihukum, maka mereka kembali akan melakukan aksi pada hari jumat pekan depan. Tak hanya itu FPI dan MUI pun melontarkan kata-kata Ahok seorang yang kafir. Kata kafir inilah yang membuat banyak umat kristen di Indonesia tak terkecuali Papua membalas kata-kata kafir ini melalui status,tweet di media sosial sebagai bentuk kepedulian kepada Ahok. Gubernur Papua pun mengeluarkan pernyataan bahwa Jika Ahok dan pemimpin kristen dianggap kafir oleh negara indonesia, maka Papua siap lepas dari NKRI.

Papua yang mayoritas beragama kristen ternyata banyak yang menunjukan kepeduliaan kepada Ahok. Wajar dan benar sebagai sesama umat kristen saling mengasihi dan membantu jika dalam kesusahan. Namun pernakah kita menunjukan kepeduliaan kita terhadap sesama rakyat Papua yang hari ini hampir punah akibat pelanggaran HAM berat indonesia...??? Tak usahlah kita jauh-jauh untuk menunjukan kepeduliaan terhadap Ahok sedangkan  yang didepan mata kita yang dibunuh,disiksa,dipenjara kita tak peduli. Yang didepan mata kita hari ini mengalami tindakan SARA. Dikatai sebagai kafir, monyet, primitif, bodoh. Ini jelas-jelas sebuah tindakan SARA terhadap rakyat Papua yang sangat melecahkan harga diri bangsa Papua yang memiliki kulit hitam.

Bukan suatu masalah jika anda peduli terhadap Ahok. Marilah berkaca,  Papua sedang berjuang untuk bebas dari penindasan indonesia. Dan langkah itu hanya menunggu waktu dan pengakuan indonesia untuk melepas Papua. Jika hari ini kita masih sibuk dengan masalah indonesia, maka ini akan dimanfaatkan indonesia untuk mengkampanyekan kepada dunia internasional bahwa Papua masih ada kepedulian terhadap Indonesia.  Hal itu dibuktikan dengan status, tweet  dari rakyat Papua yang peduli dengan isu SARA di indonesia. Oleh sebab itu biarkanlah Indonesia menuju kehancuran mereka dan mari tataplah negeri kita yang penuh susu dan madu yang sebentar lagi akan menjadi sebuah negara yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain didunia ini.

Isu SARA akan menjadi bom waktu yang suatu saat menghancurkan negeri mereka, terutama menghancurkan ideologi mereka lebih awal, Pancasila, yang mana pada sila-1, Ketuhanan Yang Maha Esa.  Ini bukti bahwa dasar negara mereka tak jelas dan masih diragukan dan akan menjadi bahan tertawaan bagi negara lain termasuk Papua. Masyarakat Papua tetaplah memandang dan menertawai kehancuran bangsa Indonesia tanpa ambil bagian untuk menyelesaikan masalah mereka terkait tindakan SARA.

Kata kasarnya ‘Rakyat Papua tak usah ambil pusing’. Tak usah peduli dengan masalah mereka sebab kita juga memiliki masalah. Sadarlah kita bukan Indonesia tetapi Papua yang sebentar lagi statusnya menjadi negara. Jika peduli Ahok cukup mendoakan dirinya sebab kesusahan dan penderitaan rakyat Papua lebih besar daripada kesusahan seorang Ahok. 

Tuhan pun tahu dan mendengar doa kalian, jika ahok benar tidak menista agama lain, Tuhan akan melindunginya. tetapi jika ia menista agama lain, ia akan mendapat hukuman Tuhan. Soal Ahok serahkan lah pada Tuhan yang kita percayai dan marilah tatap negeri kita Papua menuju pemebebasan dari kolonial Indonesia. Salam Perdamaian...!!!


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0