Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

APRILIA OVERDOSIS SETELAH MENGKONSUMSI OBAT ANTI KAKI GAJAH

(Foto: jenazah Aprilia)

Nasib malang terjadi atas Aprilia Pardosi/Mambraku, bocah kelas 2, SD Inpres Arowi. Aprilia meninggal karena di duga overdosis obat anti filariasis yang di bagi secara gratis di sekolahnya. Bocah 7 tahun ini, di duga keracunan obat setelah melihat tanda-tanda pada tubuhnya yang mengacu pada tanda dan gejala keracunan.

Rabu, 18 Oktober 2017, pukul 10.00 WP, pembagian obat anti filariasis atau kaki gajah di Sekolah dasar Inpres Arowi 1. Arahan dari para petugas sebelum pembagian obat “obat ini dapat langsung di minum setelah di bagikan”,kata seorang petugas yang membagikan obat tersebut.

Aprilia sempat bertanya kepada petugas, “Dokter tidak apa, kalau minum obat sebelum makan? Saya ini belum makan”,tanya korban. Namun kata petugas, di kunyah saja obatnya setelah tiba di rumah makan dulu baru minum obatnya. Mendengar penjelasan seperti itu, sebelum tiba di rumah, korban langsung mengunyah salah satu jenis obat yang dibagikan. Awalnya belum muncul gelaja. Beberapa saat kemudian, korban merasa kepala sakit dan pusing. Akhirnya korban tidur sampai malam hari.
(Foto: Obat anti kaki gajah)

Saat malam hari, korban mulai muntah-muntah hingga berujung pada muntah darah. Tubuh korban sangat lemas. Pada Kami, 19 Oktober 2017, sekita pukul 08.00 WP, korban di lakrikan ke RSUD Kabupaten Manokwari.

Ibu kandung Aprilia menjelaskan penyakit yang di alami korban kepada dokter di Rumah Sakit. Tindakan pertama yang di berikan adalah dokter memberikan obat lambung. Setelah itu di ambil darah untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hasilnya ada indikasi Malaria Tropika +1. Ibu korban sempat keheranan karena sebelum mendapat dan mengkonsumsi obat anti kaki gajah, almahrumah tidak ada tanda dan gejala yang merujuk pada malaria. Aprilia sehat.
Hingga malam hari, obat lambung yang di berikan tidak memberikan efek apa-apa. Korban tidak ada perubahan. Rasa mual dan muntah tidak berhenti. Ibu korban merasa panik, lalu menanyakan kembail soal hasil pemeriksaan darah karena pikirnya ada indikasi penyakit lain. Dokter mengatakan hanya Malaria Tropika +1.

Berdasarkan informasi dari ibu korban, Aprilia mengalami muntah sebanyak 13 kali di Rumah Sakit. Muntah darah. Selain itu bibir korban bengkak serta warna hitam. Bagian belakang perut korban terlihat bengkak warna hitam. Ketika di rabah seperti batu kerasnya.

Nyawa Aprilia akhirnya tidak tertolong. Ia menghembuskan nafas terakhir pada Jumat, 20 Oktober 2017 di Rumah Sakit kira-kira pukul 09.00 WP. Aprilia di duga overdosis/keracunan obat anti kaki gajah. Kedua kakak Aprilia juga menjadi korban keracunan obat namun masih sempat tertolong.

(Foto: Kedua kakak korban yang sempat tertolong)

Bagi seluruh rakyat Papua dimanapun berada, agar mewaspadai dan mengontrol anak-anak terutama yang duduk di bangku TK dan SD.

(Sumber: Zet Steven Tata)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar